Tampilkan postingan dengan label Roberto Caleg Hanura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roberto Caleg Hanura. Tampilkan semua postingan

Menggagas Cinta Arwana



 http://ferboesrichardson.files.wordpress.com/2013/09/arwana-golden-pino.jpg
Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan berbahasa Inggris yang cukup menggetarkan hati saya. Mengapa? Ternyata salah satu negara tetangga kita merupakan ekspotir terbesar ikan hias di dunia. Lalu pertanyaan saya, bagaimana mungkin sebuah negara yang  luas wilayahnya tidak lebih besar dari pulau Bali bisa menjadi penghasil ikan hias terbesar di dunia, yang termasuk salah satunya arwana.
Lalu saya teringat dengan para peternak arwana di Sleman yang sering mendapatkan kunjungan pedagang asing. Mereka disambut dengan ramah. Cukup hangat, hingga suatu saat tamu istimewa tersebut menyatakan minatnya membeli ikan arwana mereka secara borongan. Para peternak membuka tangan lebar-lebar tanda setuju.  Alhasil, peristiwa yang saya baca di atas terjadi. Si pedagang seolah dikenal sebagai produsen arwana terbaik, sedangkan si peternak Sleman raib dari perhatian banyak orang.
Saya berpikir jika harusnya peternak kita, khususnya di Slemen mendapatkan penghargaan terbesar sebagai penyedia arwana terbaik di dunia.  Karena faktanya demikian. Namun secara global keberadaan peternak arwana Yogya raib, kalah oleh keberadaan pengumpul asal luar negeri.
Saya tidak ingin menyalahkan para pedagang asing, lalu menuduh mereka tengah mencuri kekayaan alam kita. Saya juga memaklumi adanya sejumlah masalah yang dihadapi peternak, sehingga selalu menjadi pihak yang lemah dalam persaingan.
Pertama tentunya adalah masalah kelembagaan. Petani seringkali bertindak secara individual. Seharusnya petani arwana perlu memiliki organisasi yang kuat. Dengan berkumpul dalam sebuah wadah, entah itu organisasi, atau kelompok peternak, mereka bakal menjadi kekuatan ekonomi.  Banyak pihak yang mendekati. Entah itu perbankkan, perusahaan pakan, obat-obatan dsb.
Dengan berkumpul bersama, petani dapat menghimpun kekuatan berupa modal, tenaga, pengetahuan dsb untuk kebaikan bersama. Sebuah koperasi petani di Sultra mampu menghimpun dana hingga 2 M yang dapat dimanfaatkan petani sebagai modal kerja.
Kedua, pengetahuan pasar. Apa yang membuat pengumpul bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dalam sebuah sistem perdagangan? Tidak semata-mata karena memiliki modal yang besar, tapi tapi juga pengetahuan yang mereka miliki. Oleh sebab itu, perlu peran pemerintah terkait hal tersebut. Yakni, memberikan pelatihan soal pemasaran dan mutu maupun menghubungkan petani dengan pembeli potensial.
Kedua hal menjadi objek pembinaan yang sedang saya jalankan, meskipun belum memberikan hasil belum menggembirakan. Harapan saya ke depan, melalui perbaikan kedua aspek tersebut peternak arwana lebih sejahtera dan bermartabat. Sehingga kita bisa merebut kebanggaan kita kembali sebagai penghasil arwana terbaik di dunia.

Sumber: http://cintarwanayogya.blogspot.com/

Mengapa Saya Memilih Maju Menjadi Caleg DPR?



Roberto Everhard 
Banyak yang bertanya pada saya. “Pak Roberto, apa lagi yang Anda cari? Bukankah Anda memiliki semuanya, usaha yang sukses, popularitas, dan keluarga yang bahagia? Lalu untuk apa Anda maju sebagai caleg DPR RI”.
Kadang saya hanya merespon dengan senyuman ringan. Karena kebanyakan orang akan menganggap jawaban saya klise. Sepertinya demikian!  Namun, karena saya sudah memiliki semuanya maka alasan “ideal” tersebut menjadi sesuatu yang realistis. Saya ingin melakukan sesuatu pada tanah kelahiran saya dan juga Indonesia. Ini saya melakukan sesuatu, ketika Anda kesempatan, bisa jadi tidak datang untuk kedua kalinya.
Tentu banyak hal yang bisa saya lakukan tanpa harus menjadi anggota DPR. Saya bisa membina masyarakat, melakukan advokasi tanpa harus menjadi anggota dewan yang terhormat.
Namun sebagai pengusaha yang telah mengujungi berbagai tempat di Indonesia, saya menyadari benar bahwa banyak hambatan untuk mensejahterakan masyarakat berpangkal pada regulasi, kebijakan dan ketimpangan penganggaran.
Sebuah kebijakan, peraturan jika disusun dengan itikad baik akan sangat berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Kebijakan proteksi pertanian melalui penerapan pajak impor dapat berdampak terhadap peningkatan daya saing komoditas agribisnis dalam negeri. Undang-undang perlindungan hutan memberikan hak-hak masyarakat lokal yang lekat dengan hutan untuk menjalankan kebudayaannya.
Namun di sisi lain kebijakan yang keliru dapat menyengsarakan rakyat, seperti banyak kasus yang terjadi belakangan ini. Bagaimana kebijakan digunakan untuk meraup keuntungan golongan, dana yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan perbaikan nasib rakyat. Banyak izin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah tanpa mempertimbangkan kelestarian lingkungan, martabat masyarakat dan hak-hak hidup kaum minoritas.
Hal inilah membuat saya memutuskan untuk terlibat di DPR. Saya ingin memberi kontribusi secara luas terhadap perbaikan regulasi, mengawasi eksekutif dalam menjalankan fungsinya serta menjamin pengalokasian anggaran yang adil.
Lalu mengapa saya memulainya di  Yogyakarta. Saya lekat dengan masyarakat Yogyakarta, saya menjadikannya cerminan masalah yang dihadapi rakyat Indonesia secara umum. Saya memilih Yogyakarta sebagai DAPIL saya tentu dengan sejumlah pertimbangan, pertama karena saya adalah putra Yogyakarta. Kedua saya ingin mengangkat masalah yang dihadapai masyarakat Yogyakarta agar menjadi isu nasional. Selain itu saya ingin tetap menjaga Yogyakarta sebagai kawasan budaya dan tidak diobok-obok kepentingan pemerintah pusat yang disusupi kepentingan golongan hanya sekedar mencari kekuasaan.
Semua niat baik ini, dan sekiranya saya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Yogyakarta, siap saya wujudkan menjadi langkah-langkah yang strategi, konkrit. Tidak hanya buat Yogyakarta tapi juga bagi Indonesia.