Banyak yang
bertanya pada saya. “Pak Roberto, apa lagi yang Anda cari? Bukankah Anda memiliki
semuanya, usaha yang sukses, popularitas, dan keluarga yang bahagia? Lalu untuk
apa Anda maju sebagai caleg DPR RI”.
Kadang saya
hanya merespon dengan senyuman ringan. Karena kebanyakan orang akan menganggap jawaban
saya klise. Sepertinya demikian! Namun,
karena saya sudah memiliki semuanya maka alasan “ideal” tersebut menjadi
sesuatu yang realistis. Saya ingin melakukan sesuatu pada tanah kelahiran saya
dan juga Indonesia. Ini saya melakukan sesuatu, ketika Anda kesempatan, bisa
jadi tidak datang untuk kedua kalinya.
Tentu banyak
hal yang bisa saya lakukan tanpa harus menjadi anggota DPR. Saya bisa membina
masyarakat, melakukan advokasi tanpa harus menjadi anggota dewan yang
terhormat.
Namun sebagai
pengusaha yang telah mengujungi berbagai tempat di Indonesia, saya menyadari
benar bahwa banyak hambatan untuk mensejahterakan masyarakat berpangkal pada
regulasi, kebijakan dan ketimpangan penganggaran.
Sebuah
kebijakan, peraturan jika disusun dengan itikad baik akan sangat berdampak
terhadap kesejahteraan masyarakat. Kebijakan proteksi pertanian melalui
penerapan pajak impor dapat berdampak terhadap peningkatan daya saing komoditas
agribisnis dalam negeri. Undang-undang perlindungan hutan memberikan hak-hak
masyarakat lokal yang lekat dengan hutan untuk menjalankan kebudayaannya.
Namun di sisi
lain kebijakan yang keliru dapat menyengsarakan rakyat, seperti banyak kasus
yang terjadi belakangan ini. Bagaimana kebijakan digunakan untuk meraup keuntungan
golongan, dana yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan perbaikan nasib
rakyat. Banyak izin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah tanpa
mempertimbangkan kelestarian lingkungan, martabat masyarakat dan hak-hak hidup kaum
minoritas.
Hal inilah
membuat saya memutuskan untuk terlibat di DPR. Saya ingin memberi kontribusi
secara luas terhadap perbaikan regulasi, mengawasi eksekutif dalam menjalankan
fungsinya serta menjamin pengalokasian anggaran yang adil.
Lalu mengapa
saya memulainya di Yogyakarta. Saya lekat
dengan masyarakat Yogyakarta, saya menjadikannya cerminan masalah yang dihadapi
rakyat Indonesia secara umum. Saya memilih Yogyakarta sebagai DAPIL saya tentu
dengan sejumlah pertimbangan, pertama karena saya adalah putra Yogyakarta.
Kedua saya ingin mengangkat masalah yang dihadapai masyarakat Yogyakarta agar
menjadi isu nasional. Selain itu saya ingin tetap menjaga Yogyakarta sebagai
kawasan budaya dan tidak diobok-obok kepentingan pemerintah pusat yang disusupi
kepentingan golongan hanya sekedar mencari kekuasaan.
Semua niat
baik ini, dan sekiranya saya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat
Yogyakarta, siap saya wujudkan menjadi langkah-langkah yang strategi, konkrit.
Tidak hanya buat Yogyakarta tapi juga bagi Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar