Menggagas Cinta Arwana



 http://ferboesrichardson.files.wordpress.com/2013/09/arwana-golden-pino.jpg
Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan berbahasa Inggris yang cukup menggetarkan hati saya. Mengapa? Ternyata salah satu negara tetangga kita merupakan ekspotir terbesar ikan hias di dunia. Lalu pertanyaan saya, bagaimana mungkin sebuah negara yang  luas wilayahnya tidak lebih besar dari pulau Bali bisa menjadi penghasil ikan hias terbesar di dunia, yang termasuk salah satunya arwana.
Lalu saya teringat dengan para peternak arwana di Sleman yang sering mendapatkan kunjungan pedagang asing. Mereka disambut dengan ramah. Cukup hangat, hingga suatu saat tamu istimewa tersebut menyatakan minatnya membeli ikan arwana mereka secara borongan. Para peternak membuka tangan lebar-lebar tanda setuju.  Alhasil, peristiwa yang saya baca di atas terjadi. Si pedagang seolah dikenal sebagai produsen arwana terbaik, sedangkan si peternak Sleman raib dari perhatian banyak orang.
Saya berpikir jika harusnya peternak kita, khususnya di Slemen mendapatkan penghargaan terbesar sebagai penyedia arwana terbaik di dunia.  Karena faktanya demikian. Namun secara global keberadaan peternak arwana Yogya raib, kalah oleh keberadaan pengumpul asal luar negeri.
Saya tidak ingin menyalahkan para pedagang asing, lalu menuduh mereka tengah mencuri kekayaan alam kita. Saya juga memaklumi adanya sejumlah masalah yang dihadapi peternak, sehingga selalu menjadi pihak yang lemah dalam persaingan.
Pertama tentunya adalah masalah kelembagaan. Petani seringkali bertindak secara individual. Seharusnya petani arwana perlu memiliki organisasi yang kuat. Dengan berkumpul dalam sebuah wadah, entah itu organisasi, atau kelompok peternak, mereka bakal menjadi kekuatan ekonomi.  Banyak pihak yang mendekati. Entah itu perbankkan, perusahaan pakan, obat-obatan dsb.
Dengan berkumpul bersama, petani dapat menghimpun kekuatan berupa modal, tenaga, pengetahuan dsb untuk kebaikan bersama. Sebuah koperasi petani di Sultra mampu menghimpun dana hingga 2 M yang dapat dimanfaatkan petani sebagai modal kerja.
Kedua, pengetahuan pasar. Apa yang membuat pengumpul bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dalam sebuah sistem perdagangan? Tidak semata-mata karena memiliki modal yang besar, tapi tapi juga pengetahuan yang mereka miliki. Oleh sebab itu, perlu peran pemerintah terkait hal tersebut. Yakni, memberikan pelatihan soal pemasaran dan mutu maupun menghubungkan petani dengan pembeli potensial.
Kedua hal menjadi objek pembinaan yang sedang saya jalankan, meskipun belum memberikan hasil belum menggembirakan. Harapan saya ke depan, melalui perbaikan kedua aspek tersebut peternak arwana lebih sejahtera dan bermartabat. Sehingga kita bisa merebut kebanggaan kita kembali sebagai penghasil arwana terbaik di dunia.

Sumber: http://cintarwanayogya.blogspot.com/

Bakti Sosial di Semanu Gunung Kidul dan Berbah, Sleman




 
Saya beruntung mendapatkan kesempatan bertemu dengan warga Brebah Sleman, DIY, pada hari minggu yang lalu ( 24/11). Ibu-ibu mendominasi acara tersebut, dan terlihat menunggu dengan ceria. Demikian juga dengan para Bapak-Bapaknya.
Pada hari itu saya bersama Bapak Heri, Caleg Dapil 4 Sleman, akan mengadakan bakti sosial. Kami membagi-bagikan mie intant dan kartu asuransi Hanura kepada warga yang hadir. Seorang Ibu begitu bersemangat menerima bingkisan dari kami. “Semoga sukses ya pak”, kata seorang Ibu tulus.
“Mohon doanya, ya bu”, jawab saya.
Namun saya tegaskan kepada para warga bahwa kami tidak ingin dipilih karena bantuan ini. Tapi pahami benar visi-visi dari para caleg, pahami, lalu pilih yang berani melakukan kontrak politik dan janji yang konkrit. “jadi Bapak dan Ibu jangan pilih saya karena saya memberikan bingkisan lalu berharap untuk mendukung, karena jika Bapak salah pilih yang rugi Bapak dan Ibu juga. Tapi pilihlah saya jika Bapak dan Ibu yakin dengan kejujuran dan niatan saya yang baik”, jelas saya. 
Gambar. Bapak Heri, Caleg DPRD Dapil 4 DIY
Sayapun menyampaikan visi dan misi saya pada acara tersebut. Warga ada yang menyeletuk dengan setengah bercanda. Saya tertawa, demikian juga mereka. Inilah suasana Yogyakarta yang penuh kekeluargaan.
Lalu pada akhir pertemuan saya tidak melepaskan kesempatan untuk berfoto-foto dengan warga. Kami saling menarik lengan untuk memastikan posisi kami pas. Perlu beberapa menit mengatur. Lalu, bliz. Semua menampakkan gigi. Ini adalah gaya terbaik kombinasi antara caleg dan warga yang penuh kehangatan. 
 Gambar. Berfoto bersama